Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Cara Menghitung Persentase(%) Untung/Rugi

Agustus 05, 2015
Cara mendapat persen keuntungan/kerugian - Kegunaan utama persentase ialah untuk membandingkan dua hal yang tidak sama persis. Pada artikel terdahulu saya telah menulis dasar-dasar bagaimana cara menghitung persentase. Kini kita akan lebih bahas lebih dalam lagi khususnya untuk memilih persentase keuntungan dan kerugian dalam proses jual-beli barang.

 

 

Untung atau Rugi?

Sebelum membahas lebih jauh, anda harus tahu dahulu istilah untung dan rugi. Penjualan dikatakan untung bila Harga Barang yang dijual lebih besar dari modal yang kita keluarkan untuk membeli barang tersebut. Sedangkan penjualan dikatakan mengalami kerugian bila harga jual lebih kecil dari harga perolehan/pembelian barang.

 

Untung ialah Harga Penjualan > Harga Pembelian

Untung = Harga Penjualan – Harga Pembelian

Persentase Keuntungan = Untung / Harga Pembelian x 100%

 

Rugi ialah Harga Penjualan < Harga Pembelian

Rugi = Harga Pembelian – Harga Penjualan

Persentase Kerugian = Rugi / Harga Pembelian x 100%

Tips untung rugi:

Bila nilai untung ialah negatif maka sebetulnya ialah rugi. Demikian juga sebaliknya, bila nilai Rugi negatif maka sebetulnya ialah untung. Misalnya Untung –Rp 50.000,- maka keadaan sebetulnya yang terjadi ialah kerugian Rp 50.000,-. Bila disebut keadaan Rugi negatif 20.000 maka keadaan sebetulnya yang terjadi ialah untung 20.000.

 

Contoh 1:

Jaka membeli motor dari temannya seharga 10 juta rupiah. Jika ia menjual lagi motor tersebut kepada orang lain dengan harga 12 juta rupiah, berapakah keuntungan yang diperoleh jaka? Berapa persen keuntungan yang diperoleh ?

 

Jawab :

Harga jual lebih besar dari harga beli, jaka memperoleh keuntungan.

Untung = Rp 12.000.000 – Rp 10.000.000 = Rp 2.000.000

Persentase keuntungan = R 2.000.000 / Rp 10.000.000 x 100% = 20%

 

Contoh 2:

Jika Jaka menukarkan dahulu uang dollar miliknya untuk membeli motor tersebut dengan kurs 1 dolar setara dengan Rp 9.000 dan pada ketika menjualnya kurs dollar ialah Rp 13.000 per satu dollar, Berapa persen keuntungan Jaka (dalam dollar)?

 

Jawab :

Harga Beli (dalam Dollar) = Harga beli Rupiah / Rp 9.000 = Rp 10.000.000 / Rp 9.000 = 1.111,11 dollar

Harga Jual (dalam Dollar) = Harga Jual Rupiah / Rp 13.000 = Rp 12.000.000 / Rp 13.000 = 923,08 dollar

Keuntungan (dalam dolar) = Harga Jual (dalam Dollar) - Harga Beli (dalam Dollar) = 923,08 – 1.111,11 = -188,03

Persentase keuntungan = -188,03 / 1.111,11 x 100% = - 16,92.%

Karena keuntungan bernilai negatif, maka sebetulnya Jaka mengalami kerugian sebesar 16,92%.

 

Contoh 3:

Bila motor yang dijual jaka pada pola diatas ditawar oleh Badu sebesar Rp 7.000.000, berapa besar kerugian yang akan menimpa Jaka baik dalam rupiah maupun persen?

 

Jawab :

Harga jual lebih kecil dari harga beli, jaka akan memperoleh kerugian.

Rugi = Rp 10.000.000 – Rp 7.000.00 = Rp 3.000.000

Persentase Kerugian = R 3.000.000 / Rp 10.000.000 x 100% = 30%

 

 

Harga Perolehan dalam Perhitungan Untung/Rugi

Dalam kehidupan nyata, perhitungan untung rugi tidak hanya sekedar hitungan harga jual dan harga beli, tapi juga ada biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh atau mempersiapkan barang sebelum dijual kembali. Biaya-biaya tersebut menyerupai ongkos kirim, reparasi/perbaikan, hiasan, packaging/pemaketan, dan lain sebagainya.

 

Contoh 4:

Melanjutkan pola 1. Sebelum motor dijual, Jaka harus membawa motor tersebut ke bengkel dan harus membayar jasa servis Rp 125.000. Lalu motor tersebut dibawa ke showroom penjualan dengan mempergunakan tenaga orang lain/sewaan sebesar Rp 75.000. Berapakah keuntungan yang diperoleh Jaka dalam rupiah dan persentase ?

 

Jawab :

Harga perolehan = harga beli + biayabiaya = harga beli + biaya servis + biaya antar

Harga perolehan = Rp 10.000.000 + Rp 125.000 + Rp 75.000 = Rp 10.200.000

Harga jual masih lebih besar dari harga perolehan, jaka masih memperoleh keuntungan.

Untung = Rp 12.000.000 – Rp 10.200.000 = Rp 1.800.000

Persentase keuntungan = R 1.800.000 / Rp 10.200.000 x 100% = 17,6%

Perhatikan, dengan adanya biaya-biaya tambahansebelum penjualan barang maka akan membuat keuntunganyang diperoleh semakin kecil.

 

 

Contoh 5:

Melanjutkan pola 4. Jika jaka ingin mempunyai keuntungan 20%, berapakah harga jual motor tersebut?

 

Jawab :

Harga perolehan = Rp 10.200.000

Persentase keuntungan yang diinginkan = 20%:

Cara 1:

Untung = 20% x Harga Perolehan = 20% x Rp 10.200.000 = Rp 2.040.000

Harga Jual = Harga Perolehan + Untung = Rp 10.200.000 + 2.040.000 = Rp 12.240.000

 

Cara 2:

Harga Jual = (100% + Persentase Keuntungan) x Harga Perolehan = (100% + 20% ) x Rp 10.200.000 = 120% x Rp 10.200.000 = Rp 12.240.000

 

 

Contoh Menghitung Untung Rugi dengan Microsoft Excel

Perhitungan keuntungan (laba) dan kerugian suatu transaksi jual-beli sanggup dipermudah dengan memakai Microsoft Excel. Anda hanya perlu menambahkan semua nilai yang termasuk dalam pada komponen pembelian atau perolehan. Sebagai gambaran, pola perhitungan jual beli yang Jaka lakukan pada pola diatas sanggup dilihat pada gambar berikut :

Perhatikan, kita sanggup menambah semua biaya yang Jaka bayar mulai dari pembelian motor hingga dengan mempersiapkan motor untuk dijual kembali. (pada file pola berada di sheet “DASAR”). Dengan memanfaatkan fungsi IF()dan ABS() yang tersedia di excel kita juga sanggup mengantisipasi bila perhitungan tersebut juga akan mengalami kerugian. Makara bila harga penjualan motor tersebut merugikan jaka, maka goresan pena otomatis akan berubah dari semula “JUMLAH KEUNTUNGAN” menjadi “JUMLAH KERUGIAN”. (pada file pola berada pada sheet “UNTUNG RUGI”).

Untuk lebih jelasnya eksklusif saja download pola perhitungan untung rugi dengan microsoft excel.
 

Tips Menghitung Persentase(%) Untung/Rugi

Dalam perhitungan untung rugi biasanya ada biaya yang dilakukan secara keseluruhan / semua barang. Bila ingin dihitung per satuan barang harus juga diperhitungkan biaya yang harus dikeluarkan per barang. Misalnya untuk pengiriman 20 motor dipakai truk dengan biaya pengiriman dihitung per trayek / 1 kali angkut. Untuk mendapatkkan ongkos kirim per motor dihitung dengan membagi ongkos kirim total dengan jumlah motor yang dikirim.

Cara Menghitung Bunga Deposito

Januari 29, 2015
Rumus Bunga Deposito Bank – Deposito merupakan simpanan baik dalam mata uang rupiah maupun mata uang aneh ibarat dollar, euro, yen, ringgit, poundsterling, dan sebagainya yang pencairannya hanya sanggup dilakukan pada jangka waktu tertentu dan syarat-syarat tertentu sehingga jadinya bila kita menjumpai kata deposito maka diasumsikan bahwa deposito yang dimaksud yaitu deposito berjangka. Lamanya uang disimpan dalam bentuk deposito biasanya dalam tenor (masa simpan) 1, 3, 6, 12, 24 atau 36 bulan. Deposito yang akan jatuh tempo sanggup diperpanjang secara otomatis (ARO - Automatic Roll Over) tergantung pada ketika perjanjian awal pembuatan deposito.
Uang yang kita investasikan dalam bentuk tabungan dan deposito bank akan bertambah sesuai dengan bunga bank yang diberikan. Bunga deposito biasanya akan lebih tinggi dari bunga tabungan biasa. Meskipun demikian, harus diingat bahwa uang deposito yang disimpan harus tidak sanggup diambil sewaktu-waktu ibarat halnya simpanan tabungan. Bila uang simpanan diambil sebelum batas waktu penyimpanan maka biasanya pihak bank akan memperlihatkan penalti berupa denda yang nilainya berkisar antara 0,5% sampai 3% dari total uang yang disimpan. Besaran penalti tersebut tergantung pada ketika anda menciptakan perjanjian deposito dengan pihak bank.
Besaran bunga deposito pada bank umum biasanya berada pada kisaran 1% dibawah suku bunga SBI yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Hal ini diubahsuaikan dengan bunga maksimal deposito yang disyaratkan dan sanggup dijamin oleh LPS (lembaga penjamin simpanan) bahwa tingkat bunga simpanan tidak melebihi tingkat bunga jaminan. Bila Suku Bunga Bank Indonesia 7,75% maka besaran bunga deposito yang masuk dalam jaminan biasanya juga maksimal 7,75% dan secara umum biasanya pada kisaran 6,75%.
Selain bunga, anda juga harus memperhitungkan pajak atas bunga deposito. Bila nilai uang yang anda depositokan lebih dari Rp 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) maka bunga yang anda peroleh harus dikurangi dahulu pajak 20% dari bunga deposito. Sebagai contoh, misalkan bunga deposito yaitu 5% per tahun. Bila tabungan anda lebih dari Rp 7,5 juta maka bunga “real” yang anda peroleh yaitu 80% dari bunga 5% atau sebesar 80% x 5% = 4% dari simpanan anda.

 

Rumus Menghitung Bunga Deposito untuk simpanan yang kurang dari Rp 7,5 juta (masa tenor dalam bulan):

Bunga Uang= Jumlah Simpanan x Bunga Per tahun x tenor / 12

 

Sedangkan rumus bunga deposito dengan besaran simpanan Rp 7,5 juta ke atas :

Bunga Uang= Jumlah Simpanan x Bunga Per Tahun x 80% x tenor / 12

 

Selain memakai tenor dalam hitungan bulan, ada beberapa bank yang menghitung bunga dengan memakai hari. Jadi, deposito 1 bulan yang disimpan pada 12 januari-11 februari akan sedikit lebih besar bunganya daripada yang menyimpan 12 februari-11 maret. Rumus bunga deposito dalam satuan hari yaitu sebagai berikut :

 

Rumus untuk simpanan deposito yang kurang dari Rp 7,5 juta (dalam hari):

Bunga Uang= Jumlah Simpanan x Bunga Per tahun x jumlah hari / 365

 

Sedangkan rumus bunga deposito dengan besaran simpanan Rp 7,5 juta ke atas :

Bunga Uang= Jumlah Simpanan x Bunga Per Tahun x 80% x jumlah hari / 365

 

Untuk memperjelas bagaimana cara menghitung bunga deposito bank akan uraikan dalam bentuk beberapa referensi berikut :

Contoh Perhitungan Bunga Deposito

Linda mempunyai uang sebesar Rp 5.000.000,- yang disimpan dalam bentuk deposito dengan masa tenor 3 bulan. Bila bunga yang diberikan oleh bank untuk deposito Linda yaitu 6% per tahun. Berapa rupiah kah yang akan diterima Linda dari bunga deposito tersebut ?

Jawab :

Bunga Rupiah= Rp 5.000.000,- x 6% x 3 / 12 = Rp 75.000,-

Contoh Menghitung Bunga Deposito Simpanan Rp 7,5 juta ke atas

Melanjutkan dari referensi sebelumnya. Bila simpanan deposito Linda sebesar Rp 10.000.000,- Berapa rupiah kah yang akan diterima Linda dari bunga deposito tersebut ?

Jawab :

Bunga Rupiah= Rp 10.000.000,- x 6% x 80% x 3 / 12 = Rp 120.000,-

Contoh Perhitungan Bunga Deposito dan Pajak

Dengan adanya pajak, maka bunga dalam rupiah yang diterima sanggup menjadi lebih kecil dan pada jumlah tertentu deposito dengan nilai yang lebih kecil justru sanggup memperlihatkan return bunga yang lebih besar. Ilustrasi deposito yang lebih kecil tetapi memperlihatkan laba yang lebih besar sanggup dilihat pada referensi berikut :

Ali dan Desi membuka deposito pada hari, bunga dan masa simpan yang sama. Deposito Ali sebesar Rp 7.000.000,- (tujuh juta rupiah) sedangkan deposito milik Desi Rp 8.000.000,- (delapan juta rupiah). Bila bunga deposito keduanya sebesar 5% per tahun. Berapa Rupiah kah bunga yang di sanggup oleh keduanya sesudah jangka satu tahun berakhir?

Jawab:

Bunga Rupiah Ali = Rp 7.000.000,- x 5% = Rp 350.000,-
Bunga Rupiah Desi = Rp 8.000.000,- x 5% x 80% = Rp 320.000,-

Bunga Rupiah Desi lebih kecil dari pada milik Ali. Meskipun deposito milik Desi lebih besar akan tetapi bunga deposito Desi harus dipotong pajak 20% terlebih dahulu sehingga yang didapat hanya sebesar 80% saja. Sedangkan milik Ali tidak dipotong pajak sama sekali sebab nilainya di bawah Rp 7,5 juta.

Contoh Perhitungan Bunga Deposito dan Masa Simpan Harian

Andy mempunyai deposito Rp 20.000.000,- pada sebuah bank swasta dengan bunga yang diberikan sebesar 5%. Jika masa simpan deposito Andy yaitu 31 hari maka berapakah bunga yang akan didapat andy ?

Jawab :

Bunga Rupiah Andy = Rp 20.000.000,- x 5% x 80% x 31/365 = Rp 67.945,21

Menghitung Bunga Deposito Dengan Microsoft Excel

Untuk mempermudah perhitungan bunga deposito kita sanggup memanfaatkan aplikasi Microsoft Excel. Untuk pengecekan apakah deposito akan dikenakan pajak atau tidak (tergantung apakah nilainya kurang dari Rp 7,5 juta atau tidak) maka kita sanggup memakai fungsi IF() yang ada di microsoft excel. Contoh penerapan perhitungan tersebut di microsoft Excel sanggup dilihat pada gambar dibawah ini. Penjelasan lebih lanjut mengenai fungsi IF sanggup dilihat pada artikel bagaimana cara memakai fungsi IF() Excel.

Pada gambar tersebut terlihat rumus untuk perhitungan di excel yaitu :

=IF(B2<7500000;B2*B4*B3/12;B2*B4*80%*B3/12)

Artinya, jikalau nilai simpanan yang ada di cell B2 lebih kecil dari 7,5 juta (ditunjukkan oleh B2<7500000;) maka bunga simpanan akan dihitung eksklusif dengan B2*B4*B3/12, jikalau simpanan bernilai 7,5 juta ke atas maka bunga yang diterima dipotong pajak 20% sehingga nilai rupiah yang diterima hanya 80% saja yang dihitung dengan B2*B4*80%*B3/12.

Silahkan mencobanya dengan download file simulasi menghitung bunga deposito dengan microsoft excel.
 

Tips Menghitung Bunga Deposito

  • Perhitungan bunga deposito di atas sanggup berbeda dengan kenyataan di lapangan sebab tidak menyertakan biaya-biaya lain yang dibebankan oleh pihak bank kepada nasabah, sang pemilik deposito.
  • Bunga deposito sebuah bank sanggup berbeda dengan dengan bank yang lain, demikian pula cara perhitungannya, ada yang memakai satuan hari ada pula yang memakai satuan bulan. Selain itu, jumlah dan mata uang yang akan didepositokan juga sanggup mempengaruhi tingkat suku bunga yang akan diberikan oleh bank. Sekedar mengingatkan, sebelum membuka deposito sebaiknya anda juga menanyakan bunga yang akan didapat, penalti yang akan dikenakan, biaya-biaya lain, maupun hal-hal lain yang sekiranya penting berdasarkan anda.
  • Bunga deposito bank Perkreditan Rakyat (BPR) biasanya lebih besar dari bank umum. Meskipun demikian anda harus yakin bank tersebut resmi/terdaftar dan simpanan deposito yang ditawarkan akan dijamin oleh LPS.

Cara Menghitung Bep/Titik Impas Perjuangan Bisnis

Oktober 29, 2014
Menghitung Break Event Point (BEP) atau Titik Impas di Ms Excel - Setiap pengusaha atau pemilik modal sebelum menanamkan uang atau modal pada sebuah perjuangan niscaya akan menghitung untung rugi perjuangan yang akan digeluti terlebih dahulu. Lebih jauh lagi, hitungan ihwal berapa usang waktu yang dibutuhkan untuk balik modal alias titik impas mutlak perlu dilakukan. Secara sederhana, Break Even Point (BEP) atau Titik impas yaitu sebuah istilah ekonomi yang memperlihatkan kapan total Keuntungan sebuah perjuangan setara atau sama dengan modal yang telah dikeluarkan.

Kenapa BEP/titik impas menjadi penting? Karena titik ini sanggup memperlihatkan mulai kapan perjuangan anda memperlihatkan keuntungan yang sesungguhnya. Sebagai contoh, contohnya anda membuka gerai frenchise makanan/minuman dengan modal awal Rp 25 juta. Keuntungan higienis yang didapat (keuntungan sehabis dikurangi semua biaya produksi) selama 3 tahun yaitu 30 juta. Berarti BEP perjuangan tersebut kurang dari 3 tahun dan layak dipertimbangkan untuk dilakukan. Bagaimana kalau BEP perjuangan tersebut 10 tahun?
Untuk memperjelas bagaimana BEP sanggup dihitung silahkan anda perhatikan gambar dibawah ini.

Untuk setiap perjuangan bisnis yang akan dibentuk biasanya mempunyai Fix Cost (garis orange), sanggup berupa modal awal untuk sewa lahan, pembelian alat produksi, dan biaya-biaya lainnya. Pokoknya segala biaya yang diharapkan untuk menciptakan perjuangan berjalan atau sanggup dimulai. Semua biaya tersebut dikelompokkan dalam biaya tetap (Fix Cost).

Selanjutnya untuk setiap unit barang yang akan diproduksi membutuhkan variabel cost yang sanggup berubah-ubah. Biaya materi baku, ongkos kerja, dan biaya-biaya lain selama produksi dimasukkan dalam kelompok variable cost dan dihitung per satuan item barang yang diproduksi. Jumlah kedua biaya tersebut (Fix cost dan variable cost) disebut total biaya (garis biru).

Kemudian barang yang diproduksi tersebut dijual dan semua hasil penjualan barang dimasukkan dalam Total Pendapatan (Total Revenue, garis hijau). Keadaan dimana total hasil penjualan (Total Revenue) sama dengan total biaya (Total Cost) inilah yang disebut Break Even Point (BEP). Pada dikala garis Total Revenue di atas garis Total Cost maka keuntungan mulai diperoleh. Semakin besar selisih Total Revenue dan Total Cost ini semakin besar keuntungan higienis atau keuntungan investasi yang akan didapat (ditunjukkan oleh area arsiran Hijau).

Untuk menghitung asumsi waktu yang dibutuhkan untuk BEP, kita mulai saja bagaimana cara menghitung BEP baik menurut jumlah unit dan menurut nilai.

Dengan asumsi Pendapatan Total (TR) yaitu sama dengan Biaya total (TC) maka perhitungan BEP menurut unit sanggup diturunkan melalui turunan rumus berikut :

Dimana :

  • TR yaitu Pendapatan total (Total Revenue)
  • P yaitu Harga Per Unit (jual)
  • X yaitu Jumlah Unit
  • TC yaitu Biaya total (Total Cost)
  • TFC yaitu Biaya tetap total (Total Fix Cost)
  • V yaitu Biaya variabel per unit (produksi)

 

Untuk lebih jelasnya kita gunakan saja teladan masalah bagaimana memakai rumus BEP diatas. Misalkan kita ingin menghitung BEP perjuangan frenchise ayam goreng Huahahahey. Modal awal yang diharapkan sampai perjuangan siap berjalan yaitu Rp 21 juta. Ongkos produksi untuk setiap 1 item(potong) ayam goreng yaitu Rp 5.000,- (termasuk untuk minyak goreng, tepung, bumbu, ongkos kerja, dan lain sebagainya) Sedangkan harga harga jual Rp 8.000,- per potong ayam. Maka perhitungan BEP perjuangan tersebut dilakukan sebagai berikut:
 
 

BEPunit : X = TFC / ( P – V)
 = Rp 21.000.000 / ( Rp 8.000 – Rp 5.000) = 7.000 unit(potong)
 

Lantas berapa usang waktu yang dibutuhkan untuk BEP? Yah tergantung frekuensi penjualannya. Kalau anda berpikir bahwa secara rata-rata terjual 20 potong ayam per hari maka waktu yang dibutuhkan yaitu 7.000/20 = 350 hari. Kalau sanggup laris 35 potong perhari maka 7.000/35 = 200 hari, dan seterusnya.

Jadi berapa omzet yang harus diperoleh untuk BEP? Jawabannya yaitu jumlah unit barang dikali harga jual :

BEPRupiah = 7.000 x Rp 8.000 = Rp 56.000.000 .

Bila anda ingin menghitung jumlah omzet dikala BEP TANPA menghitung jumlah unit dahulu, maka gunakan saja rumus berikut :

Dimana :

  • FC yaitu Biaya Tetap
  • P yaitu Harga jual per unit
  • VC yaitu Biaya Variabel per unit
Kaprikornus kalau kita gunakan data pada teladan di atas maka :

 

BEPNilai = 21.000.000 / ( 1 – [5000 / 8000] )
= 21.000.000 / (1 – 0,625) = Rp 56.000.000
 

Yang paling penting dalam perhitungan BEP yaitu bagaimana mengelompokkan biaya yang termasuk fix cost dan variabel cost. Untuk sanggup memahami biaya mana yang termasuk fix cost atau variabel cost maka hal terpenting yang perlu dilakukan anda yaitu berlatih dengan teladan masalah perhitungan BEP yang lebih kompleks. Kita akan coba kembangkan teladan masalah sebelumnya.
Kita kelompokkan dulu biaya yang masuk dalam masing-masing kelompok:

FIX COST

  • Peralatan Masak
  • Gerobak/Etalase
  • Meja Kursi
  • Peralatan makan/minum
  • Spanduk

VARIABLE COST

  • Daging ayam Per Potong
  • Bumbu (per potong ayam)
  • Plastik/kertas pembungkus
  • Minyak Goreng (harian)
  • Karyawan (1 orang) per bulan
  • Sewa kawasan per bulan
  • Listrik+Air per bulan

Lihat komponen variabel cost di atas. Terlihat perbedaan waktu pada variabel-variabel tersebut. Ada yang per potong, harian dan bulanan. Untuk mempermudah mendapat nilai variabel cost per potong ayam kita buat dahulu ke dalam satuan bulan sehabis itu gres di konversi ke dalam satuan potong ayam. Misalkan sasaran penjualan per hari yaitu 20 potong ayam, maka sasaran 1 bulan yaitu 600 potong ayam. Demikian juga untuk minyak goreng, kita konversi dulu dalam bulanan. Setelah itu kita akan mendapat nilai variable cost setiap potong ayam dengan cara menjumlahkan semua komponen biaya variable cost kemudian di bagi dengan total potong ayam dalam per bulan.
Selanjutnya Dengan harga jual Rp 8.000 pe potong ayam kita akan sanggup menghitung BEP unit dan nilai omzet menyerupai terlihat pada gambar hasil perhitungan BEP memakai microsoft excel berikut.

Untuk mengurangi kebingungan, silahkan download file teladan perhitungan BEP (studi masalah ayam goreng) di atas .

 

Tips Hitung BEP/Titik Impas Usaha Bisnis

  • Perhitungan Break Even Point (BEP) di atas hanya memakai angka yang konstan. Artinya, faktor inflasi atau kenaikan harga belum dihitung. Kaprikornus kalau hasil perhitungan anda ternyata termasuk dalam jangka waktu yang usang maka pertimbangkanlah faktor inflasi, depresiasi, dan faktor-faktor lainnya yang mungkin sanggup kuat kuat pada perjuangan bisnis anda. Untuk hal tersebut anda sanggup saja memakai simulasi per tahun
  • Pada dikala perhitungan BEP pergunakanlah angka yang “moderat”, tidak terlalu optimis maupun pesimis. Frenchise terkadang memperlihatkan angka yang optimis, dan ini sanggup menjerumuskan anda dalam memperkirakan BEP